Kebijakan ICE Mendorong Krisis Kesehatan Ibu

8

Keheningan di ruang bersalin dan bersalin hanya dipecahkan oleh pencarian detak jantung janin yang panik. Ketika seorang perawat berpengalaman meminta USG, ini menandakan kenyataan yang suram: bayinya mungkin sudah tidak hidup. Saya dan dokter yang merawat melakukan pemindaian berulang kali, sangat berharap ada kesalahan, tetapi terkadang tidak ada detak jantung. Jeritan ibu adalah suara yang tidak akan pernah dilupakan oleh para profesional medis.

Masalah intinya jelas: ketakutan terhadap Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) menghalangi individu hamil untuk mendapatkan perawatan pranatal yang kritis. Jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan bahwa 20% responden menghindari janji temu medis karena aktivitas ICE. Ini bukan teori; pasien datang untuk melahirkan setelah berbulan-bulan tanpa pemeriksaan, dan departemen kedokteran ibu-janin melaporkan tingkat ketidakhadiran USG yang mencapai rekor tertinggi.

Hal ini penting karena perawatan kehamilan yang konsisten berhubungan langsung dengan pencegahan bayi lahir mati, kelahiran prematur, dan kematian bayi. Sebuah penelitian terhadap lebih dari 25 juta kelahiran membuktikan hal ini: lebih sedikit perawatan berarti tingkat kematian yang lebih tinggi. Tindakan ICE memaksakan pilihan yang mengerikan: menghadiri janji temu dan berisiko berpisah dengan keluarga, atau tinggal di rumah dan berisiko mengalami komplikasi yang dapat membunuh bayi, ibu, atau keduanya.

Dampaknya melampaui bidang kebidanan. Pasien dengan kondisi kronis juga melewatkan janji temu, sehingga membahayakan kesehatan jangka panjang mereka. Operasi “Charlotte’s Web,” sebuah kampanye Patroli Perbatasan baru-baru ini, telah menimbulkan kerusakan yang berkepanjangan, dengan banyak pasien yang menghindari perawatan berbulan-bulan setelah penggerebekan. Teror ini nyata adanya, dan hal ini memecah belah keluarga serta mengikis kepercayaan terhadap sistem layanan kesehatan.

Ini bukan hanya masalah medis; ini adalah krisis kemanusiaan. Kebijakan penegakan imigrasi memaksa pengambilan keputusan yang mustahil bagi individu yang berhak mendapatkan martabat dan hak untuk mencari perawatan tanpa rasa takut. Korban jiwa terlihat setiap hari di klinik dan ruang bersalin, tempat terjadinya tragedi yang sebenarnya bisa dicegah karena teror yang didorong oleh kebijakan.

Situasi ini memerlukan perhatian segera. Keluarga harus dapat mengakses layanan kesehatan tanpa harus berpisah, dan institusi perlu mengatasi rasa takut yang membuat pasien menjauh.

Konsekuensinya jelas: tidak adanya tindakan akan mengakibatkan lebih banyak kematian yang bisa dicegah.

попередня статтяTransformasi Kebugaran: Kisah Nyata tentang Kekuatan dan Ketahanan